Sabtu, 22 Agustus 2020

Sebuah Pengantar: Menjadi Orang Tua

Sebuah Pengantar: Menjadi Orang Tua

Zulaeni Esita
Dosen Psikologi, Universitas Muhammadiyah Kendari



Dewasa membuat seseorang menjadi orang tua.  Kenapa? karena umumnya seseorang menikah ketika ia dewasa. Meskipun pada masyarakat tidak sedikit kita jumpai mereka yang menikah bukan di usia dewasa. Nah, dewasa dalam tulisan ini dimulai dari usia 18 tahun sampai dengan sekitar 40 tahun. Disebut juga sebagai fase dewasa awal atau dewasa dini. 

Dalam Psikologi Perkembangan disebutkan bahwa setiap individu memiliki tugas-tugas perkembangan yang harus dipenuhinya pada setiap fase rentang kehidupan.  Tugas perkembangan ini merupakan tugas yang muncul pada saat atau periode tertentu dari kehidupan individu yang apabila berhasil akan menimbulkan rasa bahagia, sebalikanya jika gagal akan menimbulkan rasa kekecewaan dan kesulitan dalam menghadapi tugas-tugas berikutnya. Pada fase dewasa awal, tugas perkembangan individu adalah mulai bekerja, memilih pasangan, belajar hidup dengan pasangan, membina suatu keluarga, mengasuh anak, mengelola rumah tangga, mengambil tanggung jawab sebagai warga negara, dan mencari kelompok sosial yang menyenangkan (Hurlock, 1980).  

Melihat tugas perkembangan di atas, maka salah satu tuntutan pada individu adalah menikah dan menjadi orang tua. Orang tua melakukan pengasuhan pada anaknya. Mengasuh jika diartikan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti menjaga yang di dalamnya ada unsur merawat dan mendidik anak lalu proses membimbing yang terdiri dari membantu dan melatih anak.  

Namun, apakah semua orang dewasa siap dan bersedia untuk menjadi orangtua dan mengasuh? Seperti yang diketahui bahwa mengasuh dilakukan sejak bayi lahir hingga ia menjadi dewasa. Durasi dalam mengasuh adalah 7 hari dalam 1 minggu dan 24 jam dalam sehari. Sebagai Orang tua pun dalam mengasuh tidak dikenal adanya gaji dan bonus juga hari libur. Brooks (2011) dalam bukunya menyebutkan bahwa ada beberapa alasan seseorang menjadi orang tua. Pertama, bahwa pada dasarnya orang dewasa telah dirancang untuk merespon positif atas kehadiran bayi. Pencitraan saraf dalam otak orang dewasa berdasarkan hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa orang dewasa tertarik dengan bayi dan merespon positif ketika melihat bayi.   Kedua, tuntutan masyarakat yang ada di sekitar. Masyarakat mendorong adanya regenerasi sehingga, keberadaan anak menjadi penting agar individu bisa tetap berkembang dan berkelanjutan. Walaupun sebenarnya tekanan sosial  atas peran menjadi orang tua beragam dari sisi lintas budaya. 


Referensi: 

  • Hurlock, E. B. 1980. Psikologi Perkembangan: Suatu Pendekatan Sepanjang Rentang Kehidupan.  Edisi Kelima.  Jakarta: Erlangga.
  • Jane Brooks. 2011. The Process of PARENTING (Terjemahan). Edisi ke-8.  Yogyakarta: Pustaka Pelajar




Kamis, 06 Agustus 2020

“GADGET DAN ANAK USIA DINI: APAKAH PERLU?”

Tulisan ini dipresentasikan pada acara EXPO FKIP UMK 26 Mei 2016 di aula GIC

oleh:

Zulaeni Esita

PG-PAUD FKIP Universitas Muhammadiyah Kendari


Anak sedang asik dengan gadgetnya
Abstrak

Teknologi yang semakin maju membuat manusia menjadikan teknologi sebagai kebutuhan baru dalam hidupnya. Tak bisa dipungkiri saat ini hampir setiap orang telah menggunakan gadget dalam hidupnya, mulai dari usia dini hingga usia lanjut pun gadget merupakan salah satu kebutuhan yang saat ini harus dipenuhi. Fenomena ini memunculkan berbagai pertanyaan terkait peran gadget pada perkembangan anak. Apakah anak usia dini memang memerlukan gadget dalam membantu perkembangannya saat ini? Dan apakah gadget memang benar-benar diperlukan untuk bisa membantu meningkatkan perkembangan pada anak? Lalu bagaimana pengaruh penggunaan gadget pada perkembangan anak? Tulisan ini membahas mengenai kehidupan anak era digital dan tahap perkembangannya.     

Kata Kunci: gadget, anak, perkembangan

 

PENDAHULUAN

Zaman berkembang terus menerus menemani perputaran waktu. Perubahan pada zaman merupakan hal yang tidak bisa dielakkan oleh manusia. Manusia yang mampu bertahan di setiap perubahan zaman adalah manusia yang mampu beradaptasi. Dibutuhkan kedinamisan untuk tetap bisa beradaptasi pada setiap perubahan zaman. Hal ini terjadi pada semua manusia di seluruh belahan dunia. Salah satu tuntutan zaman yaitu kemajuan teknologi. Kemajuan teknologi juga merupakan hal yang tidak bisa dibendung oleh manusia. Salah satu produk dari kemajuan teknologi ini, adalah munculnya gadget dalam kehidupan manusia. Gadget adalah piranti yang berkaitan dengan perkembangan teknologi masa kini. Yang termasuk gadget misalnya tablet, smartphone , netbook , dan sebagainya. Kebutuhan akan gadget merupakan kebutuhan baru manusia di zaman digital saat ini. Hampir setiap orang merasa membutuhkan gadget dalam hidupnya. Pengguna gadget pun tak berbatas usia, karena hampir semua usia dalam rentan perkembangan menggunakan gadget. Mulai dari bayi hingga mereka yang sudah di tahap usia lanjut, gadget merupakan sesuatu yang dibutuhkan dalam melangsungkan hidupnya sehari-hari.

Survey yang telah dilakukan oleh perusahaan eMarketer tahun 2015 menyebutkan bahwa pengguna gadget di Indonesia akan terus meningkat, hal itu berdasarkan hasil survey mereka yang menunjukkan pengguna gadget meningkat dari tahun ke tahun secara signifikan dan diprediksi Indonesia menjadi empat besar pengguna gadget terbesar di dunia (id.korantempo.com, 2015).  Data Global Web Index menyebutkan bahwa Indonesia merupakan negara yang memiliki pengguna sosial media yang paling aktif di Asia. Indonesia memiliki 79,7 % user aktif di sosial media. Angka ini lebih tinggi daripada jumlah pengguna di Filipina (78%), Malaysia (72%), dan Cina (67%).   Data lain menunjukkan statistik pengguna internet di Indonesia sebesar 15% atau 38. 191.873 dari total populasi Indonesia yaitu 251.160.124. Dan pengguna internet yang menggunakan gadget mencapai 14% dari populasi tersebut (Ahmad, 2014). Lebih lanjut disebutkan bahwa rata-rata waktu yang digunakan oleh pengguna internet dalam mengakses informasi melalui PC atau laptop berkisar 5 jam 30 menit setiap harinya sedangkan rata-rata waktu yang dihabiskan oleh pengguna internet melalui mobile phone di Indonesia sekitar 2 jam 30 menit setiap harinya (Ahmad, 2014).        

Zaman digital saat ini menjadikan semua usia menggunakan gadget, termasuk bayi sekalipun. Dan tidak bisa dipungkiri bahwa orang tua di zaman digital ini telah memperkenalkan gadget pada anak-anaknya sejak dini. Bahkan sebagian orang tua menganggap bahwa gadget bisa membantu mereka dalam mengurus anaknya, misalnya saja aplikasi-aplikasi mengenai tumbuh kembang anak, aplikasi yang membantu menstimulasi perkembangan anaknya, bahkan gadget dianggap bisa membantu menenangkan anaknya di saat rewel dan lainnya. Anak-anak yang terlahir di zaman digital ini menjadi anak-anak digital.   

Pertanyaan yang kemudian muncul dan menjadi kekhawatiran oleh banyak orang adalah bagaimana pengaruh gadget terhadap perkembangan anak di zaman digital ini? Lalu seperti apa peran orang dewasa dalam menghadapi anak digital saat ini? Di satu sisi, gadget dianggap memberikan pengaruh negatif terhadap anak. Misalnya: interaksi sosial anak menjadi kurang berkembang, anak menjadi adiksi terhadap gadget, anak menjadi pasif, dan rentan terhadap bahaya pornografi. Tetapi di sisi lain gadget pun memberikan pengaruh positif pada anak. Pengaruh positif yang ditimbulkan dari gadget adalah membangun kreativitas anak, membantu anak untuk update akan informasi, dan gadget merupakan media pembelajaran yang menyenangkan bagi anak.

  

PERKEMBANGAN ANAK DAN GADGET

Perkembangan Bahasa. Bahasa merupakan sistem komunikasi yang didasarkan pada kata dan tata bahasa (Papalia, Old, & Feldman,. 2010). Penguasaan bahasa dimulai sejak individu lahir. Bahasa pertama anak yaitu menangis dan merajuk yang merupakan suara komunikasi pertama seorang bayi. Lalu tahapan berikutnya adalah membuat suara, tahap satu kata, lalu membentuk frase pendek, kemudian ujaran telegrafis, dan selanjutnya adalah tahap kalimat panjang (Beaty, 2013).

Gadget umumnya digunakan oleh anak untuk bermain game dan menonton. Umumnya mereka menonton kartun dan animasi lainnya. Gadget berisi aplikasi tentang pembelajaran mengenal huruf atau gambar, juga berisi aplikasi hiburan seperti sosial media, video, gambar, dan video game (Nurrachmawati, 2014).  Melalui gadget, orang tua bisa menstimulasi anak untuk mengembangkan perkembangan bahasanya. Misalnya dengan menggunakan aplikasi-aplikasi dalam gadget yang bisa menunjang tumbuh kembang anak khususnya untuk perkembangan bahasanya. Ada banyak aplikasi yang bisa menunjang kemampuan bahasa anak, seperti: kata pertama bayi, melatih berbicara anak, belajar bahasa Inggris anak, lagu anak-anak Indonesia, ABC, game edukasi, dan lain sebagainya. Perkembangan anak lainnya yang harus distimulasi adalah perkembangan kognitif, motorik, dan sosial.

Perkembangan kognitif. Kognitif terkait dengan kemampuan berpikir dan bagaimana anak mengonseptualisasi dunia. Piaget menjadi tokoh penting dalam teori ini. Piaget (dalam Beaty, 2013) mengungkapkan empat tahap perkembangan kognitif yaitu dimulai dengan tahap sensori-motorik (0-2 tahun) kemudian tahap praoperasional (2-7 tahun), lalu tahap operasional konkrit (7-11 tahun) dan terakhir tahap operasional formal (11+ tahun). Di usia pra sekolah tahap pemikiran anak masih berada di tahap pra operasional. Menurut Upton (2012) bahwa pada tahap ini ciri pemikiran anak masih simbolik dan animisme (menggambarkan objek dengan sifat-sifat dan perasaan manusia) Di tahap ini pengenalan bentuk, warna, dan suara bisa diperoleh dari gadget. Gadget bisa membantu orangtua untuk mengenalkan dan mengembangkan sisi kognitifnya melalui aplikasi-aplikasi yang telah tersedia di gadget. Peran orang tua sangat penting dalam mendampingi anak menggunakan gadget dalam proses pembelajarannya. Otak anak di bawah 5 tahun masih

Perkembangan Motorik. Fisik bagi anak melibatkan dua wilayah koordinasi motorik penting yaitu gerakan yang dikendalikan oleh otot-otot besar dan gerakan yang dikendalikan oleh otot-otot kecil (Beaty, 2013). Kemampuan motorik kasar bisa distimulasi dengan menggunakan gadget sebagai media pembelajaran. Video sebagai salah satu fitur dari gadget bisa digunakan sebagai media pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan motorik kasar anak. Terlebih lagi tampilan video lebih menarik perhatian anak. Anak menjadi senang dan antusias dalam mengikuti pembelajaran dengan menggunakan gadget. Misalnya: orang tua memperlihatkan video senam Pinguin, senam ceria, atau senam lainnya kepada anak melalui gadget dan mempraktekkannya secara bersama-sama; menonton video meloncat baik itu dalam kartun ataupun animasi lainnya. Kemampuan motorik lainnya yang juga harus dikembangkan adalah kemampuan motorik halus. Anak-anak bisa mengembangkan kemampuan motorik halusnya melalui menggambar ataupun mewarnai melalui aplikasi-aplikasi yang telah tersedia di gadget.

Perkembangan Sosial.  Kemampuan sosial anak berhubungan dengan kemampuan anak dalam berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya. Perkembangan sosial ini, diikuti dengan berkembangnya kemampuan mengenai konsep diri, emosi, dan self esteem pada anak. Perkembangan sosial berhubungan dengan kemampuan kognitif anak. Karena terkait dengan bagaimana anak mengkonsepkan dirinya sebagai diri dalam lingkungan sosialnya. Konsep diri anak adalah bagaimana anak membentuk citra diri mereka sendiri. Konsep ini terbangun dari konstruksi kognitif anak (Papalia, Old, & Feldman,. 2010). Lalu emosi membantu anak untuk memandu perilaku mereka dalam situasi sosial dan untuk berbicara tentang perasaan (Laible & Thompson, 1998). Self esteem pada anak prasekolah cenderung bersifat semua atau tidak sama sekali, misalnya mereka menilai dirinya bahwa dia baik atau dia jelek. Self esteem adalah penilaian yang dibuat seseorang tentang kelayakan dirinya (Papalia, Old, & Feldman,. 2010). Hasil dari penilaian akan dirinya akan memberikan dampak pada interaksi sosialnya. Gadget memberikan dampak yang negatif dan juga positif. Sebagian besar orang mengkhawatirkan bahwa gadget memberikan pengaruh negatif terhadap kemampuan sosial anak. Karena diaanggap menjadikan anak lebih pasif tidak mau bersosialisasi dengan orang-orang disekitarnya sehingga menjadi mahluk yang individual. Namun dengan peran orang tua yang efektif dalam pendampingan terhadap anaknya maka interaksi sosial anak akan tetap bisa berkembang dengan baik walaupun pembelajarannya menggunakan gadget.

 

MANFAAT GADGET BAGI ANAK   

Tidak sedikit orang yang beranggapan bahwa gadget memberikan kerugian pada anak. Namun, tidak bisa dipungkiri juga jika gadget memberikan manfaat yang cukup banyak pada anak. Terlepas dari persoalan kerugian dan manfaat gadget, hal yang tidak bisa dipungkiri lagi adalah bahwa anak digital tumbuh dan berkembang bersama gadget saat ini.

Menurut Warisyah (2015) ada beberapa manfaat gadget terhadap tumbuh kembang anak yaitu: pertama, menambah pengetahuan anak karena di dalam gadget terdapat banyak aplikasi edukatif yang disediakan untuk anak-anak dan dapat melatih proses perkembangan otak dan membantu proses pembelajaran anak usia dini. Gadget yang canggih akan membantu anak untuk bisa dengan lebih mudah mengakses fitur-fitur permainan yang bisa mendukung aspek-aspek perkembangannya. Kedua,  anak bisa memperluas jaringan pertemanannya. Melalui gadget anak bisa menambah temannya dengan lebih mudah dan cepat. Ketiga, gadget bisa memudahkan komunikasi anak. Gadget merupakan alat teknologi yang canggih. Semua orang dapat dengan mudah dapat berkomunikasi dengan orang lain dari seluruh penjuru tanpa berbatas waktu dan ruang. Anak pun bisa mudah berkomunikasi dengan orang tua mereka walaupun berbeda lokasi dan waktu.

   Tulisan lainnya menyebutkan bahwa gadget bisa membantu orangtua dan guru dalam proses pembelajaran anak. Pasalnya, gadget lebih menarik dan menyenangkan bagi anak-anak, sehingga mereka menjadi lebih tertarik dan menyukai pembelajaran yang diajarkan dengan menggunakan gadget (Rosen, 2017)

 

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad. (2014). Statistik Internet di Indonesia. Di akses dari http://www.kompasiana.com.

Beaty, J. J. (2013). Observasi Perkembangan Anak Usia Dini. Edisi ketujuh. Jakarta: Kencana

Laible, D. J., & Thompson, R. A. (1998). Attachment and Emotional Understanding in Preschool Children. Developmental Psychology, 34 (5), 1038-1045.  

Papalia, D. E., Old, S. W., & Feldman, R. D. (2010). Psikologi Perkembangan. Edisi kesembilan. Jakarta: Kencana.

Rosen, M. D. (2017). Is Technology Good for Little Kids? Di unduh dari https://www.parents.com  

Upton, P. (2012). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga

Warisyah, Y. (2015). Pentingnya “Pendampingan Dialogis” Orangtua dalam Penggunaan Gadget pada Anak Usia Dini. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan “Inovasi Pembelajaran untuk Pendidikan Berkemajuan”. FKIP Universitas Muhammadiyah Ponorogo.

 

  

Kamis, 07 November 2019

"Dia adalah Dio" sebuah kisah dari Kelas Inspirasi Kendari

"Dia adalah Dio" sebuah kisah dari Kelas Inspirasi Kendari

Zulaeni Esita
Dosen Psikologi, Universitas Muhammadiyah Kendari 


"Dia adalah Dio", kisah yang saya temui ketika menjadi salah satu inspirator di Kelas Inspirasi Kendari di awal tahun 2019 kemarin. Kisah ini kemudian ditulis dalam sebuah buku Kelas Inspirasi Kendari "CERITA DARI PESISIR": Kisah Sukarelawan Kelas Inspirasi Kendari di Pesisir Sulawesi Tenggara. Buku ini diterbitkan oleh Sekarlangit tahun 2019. Dalam buku yang berhalaman sebanyak 359 halaman tersebut dimuat berbagai kisah para sukarelawan di Kelas Inspirasi Kendari. Ada sekitar 40 orang sukarelawan yang menuliskan kisahnya dalam buku tersebut. Berikut ini hanyalah sepenggal kisah yang saya tuliskan yang termuat dalam buku CERITA DARI PESISIR. 


........
       Kami beristirahat sejenak di ruang guru bersama teman-teman tim 03 lainnya sambil berbagi cerita pengalaman masing-masing ketika mengajar dalam kelas tadi. Mulai muncul cerita-cerita lucu, menyenangkan, dan susahnya. Beberapa teman yang sudah masuk ke kelas dua menceritakan pengalaman yang sama yaitu mereka menghadapi satu anak yang ‘nakal’, anak ini sering sekali memukuli temannya ketika ia merasa terganggu. Sehingga di kelasnya, sering ada anak yang menangis karena ulahnya. Oooo oooo setelah istirahat ini, giliran saya yang menghadapi anak-anak kelas dua tersebut. Dan benar saja, seperti yang diceritakan oleh teman-teman inspirator sebelumnya, di kelas dua ini anak-anaknya lebih sulit diatur, sebutlah kelasnya kacau. Ketika saya mengajar, anak-anak masih sibuk bermain dalam kelas padahal jam istirahat dan bermain telah usai, di sisi lain nampak ada anak yang tidur-tiduran di kursinya, dan tentunya ada anak yang berkelahi lagi seperti sebelumnya. Ya, dia adalah anak yang dibicarakan tadi di jam istirahat. Anak yang diceritakan sebagai anak ‘nakal’ di kelasnya sebutlah namanya sebagai Dio (nama samaran). 
       Saat saya masuk, Dio baru saja memukuli temannya dan temannya kini menangis di mejanya. Ketika masuk kelas, saya langsung di beritahu oleh gurunya bahwa Dio ini adalah anak nakal. Teman-temannya juga langsung menyerukan bahwa Dio adalah anak yang nakal. Yang membuat saya kaget adalah Dio sendiri sambil tertawa memperkenalkan diri kepada saya bahwa dia adalah anak nakal. Kondisi ini membuat saya sedih karena cap yang ada pada anak ini. Bagaimana tidak, anak usia 7 tahun itu mempresentasikan dirinya kepada saya sebagai anak nakal, “nama saya Dio, Bu. Iya, saya anak nakal, Bu”. 
       Dalam Psikologi disebutkan, bahwa manusia biasa melakukan self-presentation (presentasi diri) ketika bertemu dengan orang lain yang notabene adalah orang yang baru dijumpainya. Tujuannya adalah agar interaksi yang akan tercipta nanti sesuai dengan yang kita inginkan. Dari presentasi diri itu juga kita mendeskripsikan siapa diri kita. Kita mengetahui diri kita dari pengetahuan kita akan diri kita, dan hal ini menyumbang banyak dalam pembentukan konsep diri kita sebagai seseorang.
       Yang menarik dari Dio adalah umumnya orang-orang akan mempresentasikan dirinya sebagai seseorang yang positif, seperti anak baik, penurut, ramah, pintar, dan sebagainya. Namun, Dio dengan lantang dan bangga memperkenalkan dirinya dengan kesan yang negatif. Dan mungkin karena background pendidikan saya adalah psikologi sehingga hal seperti ini menarik perhatian saya lebih dalam. Dan ketika Dio menjabat tangan saya dan memperkenalkan dirinya, saya langsung terus menggenggam tangannya, sesekali ia ingin menarik melepasnya namun saya tetap menggenggamnya lebih kuat lagi. Saya mengajak Dio untuk tetap bersama di depan kelas. Saya memintanya menjadi asisten guru kelas inspirasi selama saya mengajar di dalam kelasnya. Dan Dio pun bersedia, ia mengangguk sambil tersenyum menyatakan kesediaannya. Dio saya beri tugas untuk mengatur teman-temannya, tidak bermain dalam kelas, tidak tidur-tiduran, duduk ditempat duduk sambil mendengarkan bu Guru di kelas insipirasi ini. Dio dengan senang melakukannya. Saya tetap menggenggam tangan Dio sambil menyapa teman-temannya yang lain. Saya berkenalan dengan semua teman kelasnya dan tentunya masih tetap dibantu oleh Dio. Dio membantu saya memperkenalkan teman-temannya. Nampak ia sangat senang ketika ia diberi tanggungjawab, seperti saat ini, ia menjadi asisten guru kelas inspirasi. Setelah memperkenalkan teman-temannya, saya memberikan apresiasi kepada Dio karena sudah membantu saya. 
       Lalu, saya menanyakan kepada semua teman-temannya “apakah Dio anak yang baik?” dan teman-temannya spontan menjawab, “tidak, Bu Guru”, ada satu anak yang kemudian berteriak “Dio, nakal Bu Guru”, mendengar itu, Dio langsung bereaksi. Ia langsung berlari ke arah temannya yang menjawab itu sambil mengepalkan tangannya hendak memukul temannya, hanya saja tangan Dio yang sebelahnya masih dalam genggaman saya, sehingga ia tidak bisa langsung memukul temannya. Nampak, Dio sangat marah, matanya melotot, nafasnya terengahh-engah, dan wajahnya memerah. Dio tetap berusaha melepas tangannya dari tangan saya. Saya kemudian mengatakan kepada teman-temannya bahwa Dio bukan anak yang nakal, buktinya Dio sekarang membantu Bu Guru dalam kelas. Di kelas ini, sebagian besar waktu saya habiskan bersama Dio, saya sibuk memberinya tugas, mulai dari mengabsen teman-temannya dan membagikan sertifikat kelas inspirasi kepada teman-temannya. Dalam menjalankan tugasnya, saya menanyakan beberapakan hal kepada Dio, seperti apa cita-citanya? Ia ingin menjadi seorang petugas pemadam kebakaran. Ketika ditanyai alasannya ia belum tahu kenapa. Ia hanya pernah melihatnya di TV. Lalu, ketika saya bertanya, 

“Dio, kira-kira kalau Dio dipukul, sakit atau nggak?” dia menjawab “sakit”,
saya bertanya lagi, “sedih nggak?” 
Dio menjawab, “sedih”. 
Saya memberitahu:“Nah, seperti itu juga yang dirasakan oleh teman-temanmu ketika kamu memukulinya”. 
Dio terdiam. 
Saya bertanya lagi, “memangnya kenapa Dio sering memukuli teman-temanmu?” 

dia menjawab “karena mereka selalu mengejek saya”, 
saya melanjutkan: “mengejek seperti apa?” 
Dio menjawab, “mengatai saya nakal”. 

Mendengar itu saya terdiam. Anak ini tadi dengan bangga memperkenalkan diri sebagai anak nakal tapi kenapa sekarang menjawab kalau ia terganggu dengan sebutan itu dari teman-temannya. Kisah si Dio ini menarik didalami, hanya saja waktu kami sangat terbatas di kelas ini. Anak laki-laki kelas dua yang menampilkan dirinya sebagai jagoan di kelasnya, dia anak yang sangat emosional. Hal kecil dapat membuatnya marah dan berbuat agresif kepada orang lain. Di sisi lain, Dio sangat senang diberi tanggung jawab sebagai “asisten guru kelas inspirasi”. Dan ia mendeskripiskan dirinya sebagai anak nakal. Itulah Dio, anak spesial yang saya temui hari ini di kelas inspirasi.

........





Senin, 03 Desember 2018

Pendidikan Seks bagi Anak Usia Dini

Pendidikan Seks bagi Anak Usia Dini

Zulaeni Esita 
Dosen Psikologi, Universitas Muhammadiyah Kendari


Pendidikan seks berarti pendidikan tentang seksualitas. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, seksualitas diartikan sebagai ciri, sifat, atau peranan seks. Pendidikan seks itu sendiri oleh KBBI diartikan sebagai pendidikan yang bertujuan untuk memberikan pengetahuan tentang seks, fungsi biologis kelamin dan sebagainya. Lalu seperti apa pendidikan seks bagi anak usia dini? Jurnal di bawah ini menjelaskan seperti apa pendidikan seks bagi anak usia dini. Silahkan di klik link di bawah ini untuk membaca lebih detail lagi. 

https://lppm.umkendari.ac.id/page/tampil/9/Amaliah








Selasa, 29 Mei 2018

Coping Stress pada OrangTua Anak Berkebutuhan Khusus

Coping Stress pada OrangTua Anak Berkebutuhan Khusus

Zulaeni Esita
Dosen Psikologi, Universitas Muhammadiyah Kendari


Tulisan ini merupakan materi yang penulis sampaikan dalam Seminar Nasional Anak Berkebutuhan Khusus: "Menata Masa Depan Anak Spesial" yang disampaikan pada 05 November 2016 di Balroom Swiss-bell Hotel Kendari, yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Kendari.   

Memiliki anak setelah pernikahan merupakan hal yang dinantikan oleh hampir semua pasangan suami isteri. Kelahiran seorang anak adalah saat yang menggembirakan dalam sebuah kehidupan rumah tangga.  Namun, tidak semua anak yang terlahir berada dalam kondisi normal. Ada beberapa orangtua yang mendapatkan anak yang terlahir dalam kondisi yang tidak normal. Dalam jurnal Biology, Agriculture and Healthcare, Gehan (2012) menuliskan bahwa hampir 4% dari orang tua menerima berita menyedihkan tentang kesehatan anak mereka bahkan, setiap 3,5 menit orangtua mendapatkan kabar bahwa anak mereka memiliki penyakit medis yang serius, cacat, gangguan sensorik, ataupun retardasi mental. Bagi orangtua dengan anak yang berkebutuhan khusus, saat  kelahiran anak mereka itu bercampur menjadi stres dan putus asa (Barnett et al, 2003). Anak berkebutuhan khusus merupakan anak-anak yang memiliki keterbatasan pada kondisi fisik, perilaku, perkembangan, atau emosional  dan juga membutuhkan layanan kesehatan khusus yang tidak dibutuhkan oleh anak-anak pada umumnya (Gehan, 2012). “Anak berkebutuhan khusus” (special needs children), yaitu anak yang secara bermakna mengalami kelainan atau gangguan (fisik, mental-intelektual, sosial dan emosional) dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya dan mereka memerlukan pelayanan pendidikan khusus (Direktorat Pembinaan SLB, 2005).  Data dari BPS yang bekerjasama dengan Asdep Informasi Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak tahun 2011 menyebutkan bahwa ada 2 juta jiwa (0,92%) yang berstatus berkebutuhan khusus dari total penduduk tahun 2009 (213,7 juta jiwa), seperlima (20,64%) dari total mereka yang berkebutuhan khusus adalah penduduk berusia 0-17 tahun. 
Menjadi orangtua merupakan hal yang menyenangkan dan memberikan pengalaman yang bermanfaat juga menegangkan, dan seringkali diiringi dengan tingkat stres yang tinggi. Mereka mengalami stress karena kesulitan sebagai orangtua terlebih lagi bagi pasangan muda yang baru memiliki anak dan juga tantangan sebagai orangtua dalam menghadapi kehidupan sehari-hari. Kehadiran anak dengan kebutuhan khusus memberikan tuntutan dan tantangan yang tiba-tiba bagi orangtua, yang seringkali mereka tidak pernah persiapkan sebelumnya (Erjona, 2013). Memiliki anak dengan kebutuhan khusus memberikan dampak pada perubahan hidup dan efek jangka panjang dalam kehidupan semua keluarga. Menjadi orangtua dari anak dengan kebutuhan khusus merupakan salah satu peristiwa hidup yang membuat seseorang tertekan dalam hidupnya  (Gehan, 2012). Keluarga dengan anak yang memiliki perawatan kesehatan khusus memiliki pengalaman hidup yang berbeda dari keluarga lainnya.
Reaksi yang ditunjukkan orang tua dapat berupa reaksi negatif ataupun reaksi positif. Reaksi negatif antara lain berupa penolakan atau penyangkalan, rasa bersalah, kesedihan, kecenderungan untuk meminta perlindungan, depresi, kaget, marah, kacau, cemas, takut, gejolak batin, tidak percaya, dan kecewa (Hallahan, et. all., 2012). Reaksi positif yang akhirnya dapat muncul yaitu berupa penerimaan. 
Umumnya ibu menjadi pengasuh utama bagi anak-anaknya. Pada kasus ini, para ibu dengan anak yang berkebutuhan khusus membawa beban yang lebih besar dibandingkan dengan anggota keluarga lainnya atupun dengan ibu-ibu lainnya yang tidak memiliki anak berkebutuhan khusus. Tingkat stres ibu lebih tinggi dari tingkat stres pada ayah (Sabih & Sajid, 2008). Karena sang ibulah yang berada sepanjang waktu bersama sang anak, sehingga mereka mengalami stres dan beban berat dalam pemberian perawatan kesehatan pada anaknya yang memerlukan perlakuan khusus. Hasil penelitian lainnya juga menyebutkan bahwa seorang ibu dengan anak berkebutuhan khusus  cenderung memiliki masalah kesehatan mental dibandingkan dengan ayah (Thompson,et.all dalam Gehan, 2012). Begitu pula dalam hal pengalaman perawatan kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keluarga yang memiliki anak berkebutuhan khusus memiliki pengalaman perawatan kesehatan yang berbeda dengan keluarga lainnya yang tidak memiliki anak berkebutuhan khusus (Gehan, 2012). Mereka memiliki kekhawatiran yang lebih besar dan memiliki perasaan dibutuhkan setiap saat oleh anaknya.
Orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus memiliki pengalaman stres yang lebih tinggi dibandingkan orangtua dengan anak normal. Stres yang dialami orangtua dengan anak berkebutuhan khusus disebabkan oleh adanya rasa bersalah, putus asa, rendahnya harga diri, tidak menerima kenyataan dan tidak adanya dukungan sosial. Rasa stres juga dapat berhubungan dengan karakteristik anak, tuntutan keuangan dan pemberian perawatan yang lebih besar, perasaan yang tidak siap untuk tugas-tugas pengasuhan, dan rasa kesepian. Bentuk stres lainnya yang dialami adalah tidak adanya persiapan, kurangnya informasi dan arahan dari orang tua lain yang pernah mengalaminya dan seiring dengan kemajuan perkembangan anaknya setelah diterapi membuat orang tua mulai memikirkan pendidikan jenjang selanjutnya untuk anak berkebutuhan khusus dengan biaya yang tidak sedikit (Twining & Nurlela, 2015).
Stres menunjukkan suatu tekanan atau tuntutan yang dialami individu/organisme agar ia beradaptasi atau menyesuaikan diri (Nevid, Rathus & Greene, 2005), tekanan tersebut bersumber dari dalam diri individu dan juga dari luar diri individu (Hardjana, 1994). Stres yang dialami oleh individu harus dikelola dengan baik agar individu mampu menjalani kehidupannya dengan lebih baik. Meskipun stres selalu hadir disetiap waktu dalam kehidupan individu. Namun, keterampilan individu dalam mengelola dan mengatasi semua tekanan yang datang pada dirinya akan menjadikan individu tersebut tangguh. Sama halnya dengan orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus. Mereka memiliki kekuatan (resource) dari dalam diri yang dapat membantu mereka untuk beradaptasi terhadap tekanan yang dihadapi. Pada awalnya kondisi dan perilaku maladaptive anaknya akan memicu tekanan dalam diri orangtua pada anak berkebutuhan khusus namun, seiring dengan proses terapi yang dijalani secara perlahan-lahan perilaku anak akan berubah dan tekanan pada orangtua pun akan berkurang.
Kemampuan orangtua dengan anak berkebutuhan khusus dalam memaknai hidupnya akan membantu mereka untuk keluar dari tingkat stres yang tinggi. Hal yang bisa mereka lakukan adalah dengan cara melakukan hal-hal positif terhadap perkembangan anaknya seperti mencari bantuan medis, mengikuti seminar mengenai anak berkebutuhan khusus, dan yang menjadi alasan orang tua bertahan dalam kondisi seperti ini karena orang tua yakin dibalik setiap kekurangan pasti ada kelebihan yang dimiliki anaknya, adanya keyakinan bahwa setiap anak membawa potensinya masing-masing, dan terutama mendapat dukungan dari keluarga, teman, dan sesama orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus (Twining & Nurlela, 2015). Selain itu, kemampuan mereka dalam memandang tekanan yang ada pada diri mereka dan strategi yang digunakan dalam mengatasinya dapat digunakan sebagai cara yang efektif untuk mengelola stres (Mak & Ho,2007).
Hal-hal positif yang digunakan sebagai strategi coping menghasilkan tingkat stres yang rendah pada orangtua dengan anak berkebutuhan khusus (Jones & Passey, 2004).   Ketiadaan coping stres yang positif pada orangtua akan berdampak pada anaknya (Hadadian & Merbler, 1996). Permasalahan-permasalahan yang dihadapi orangtua dengan anak berkebutuhan khusus memerlukan pemecahan sebagai upaya untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi terhadap masalah dan tekanan yang sedang mereka hadapi. Konsep untuk memecahkan permasalahan tersebut disebut dengan strategi coping. Coping dilakukan untuk menyeimbangkan emosi individu dalam situasi yang penuh tekanan. Pengelolaan stres yang disebut dengan istilah coping adalah proses mengelola tuntutan (internal ataupun eksternal) yang ditaksir sebagai beban karena diluar kemampuan individu (Folkman & Moskowitz, 2000). Ada beberapa tipe strategi coping, yaitu: (1) problem focused. Strategi coping ini mencoba untuk mengurangi stres dengan mengubah masalah atau situasi (Daniel,1999; Folkman, et.all 1986); (2) emotion focused. Strategi ini mencoba untuk mengubah tekanan emosional yang disebabkan oleh situasi (Daniel,1999; Folkman, et.all 1986); dan (3) appraisal or perception focused coping. Strategi coping ini mencoba untuk mengubah penilaian individu terhadap situasi yang dialaminya (Daniel, 1999). Setiap orang menggunakan strategi coping yang berbeda-beda dalam mengatasi stressnya.
Coping dengan problem focused menggunakan strategi kognitif untuk penanganan stres atau coping yang digunakan oleh individu dengan menggunakan strategi kognitif dalam menghadapi masalahnya dan berusaha menyelesaikannya (Folkman, et.all 1986). Aspek-aspek strategi coping dalam problem focused coping antara lain: keaktifan diri, perencanaan, kontrol diri  (Carver, Scheier & Weintraub,1989).   
Coping dengan emotion focused menggunakan strategi penanganan stres dengan memberikan respon secara emosional (Folkman, et.all 1986). Emotional focused coping merupakan strategi yang bersifat internal, aspek-aspek dalam strategi ini, seperti: dukungan sosial emosional (Carver, Scheier & Weintraub,1989).  Hasil penelitian Frey, Greenberg, & Fewell (1989) menyebutkan bahwa ketahanan keluarga dengan ibu yang memiliki anak berkebutuhan khusus lebih baik jika mereka mendapatkan dukungan sosial. Ketahanan keluarga yang dimaksud meliputi hubungan keluarga, kebahagiaan pernikahan, keharmonisan, dan kerukunan dalam rumah tangga.    
Coping dengan appraisal or perception focused coping menggunakan strategi mengubah penilaian individu terhadap situasi yang dialaminya (Daniel, 1999). Penilaian ini akan berdampak pada penerimaan (Carver, Scheier & Weintraub,1989). 
 Penelitian yang dilakukan oleh Glidden (2006) menjelaskan bahwa orang tua yang memilih strategi problem focused coping memiliki hasil positif dalam menanggulangi stresnya.  Penelitian Destryarini (2013) menggambarkan bahwa orangtua pada anak berkebutuhan khusus yang ada di Samarinda memilih mengatasi dan menghadapi masalahnya dengan menggunakan problem focused coping yang cenderung berupa keaktifan diri, perencanaan, dan kontrol diri. Seseorang yang menggunakan problem focused coping, maka ia memiliki kemampuan yang dapat merubah situasi atau stresor (Folkman, et.all 1986).
Sisi lain menunjukkan bahwa strategi yang dipilih oleh para orangtua dengan anak berkebutuhan khusus adalah strategi coping dengan emotion focused. Penelitian Twining & Nurlela (2015) menemukan orangtua anak dengan berkebutuhan khusus yang ada di Jember, Indonesia cenderung melakukan strategi emotion focused coping (EFC) sebagai strategi coping stresnya. Hal ini dikarenakan anggapan individu bahwa strategi EFC mampu mencegah emosi negatif menguasai diri mereka dengan begitu mereka bisa memecahkan masalahnya. Hal ini dilakukan jika suatu masalah tidak dapat dikendalikan (Atkinson dkk, 2001). Hal senada juga diungkapkan Smet (1994) yang menyatakan bahwa individu yang merasa tidak mampu dan tidak berdaya dalam menghadapi situasi stressful cenderung menggunakan strategi ini. EFC lebih mengarah pada mengontrol respon emosi terhadap situasi yang mendatangkan stres. Pemilihan strategi coping dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: usia (Smet, 1994; Biren & Schale, 1996; Safarino, 1997);  jenis kelamin (Smet, 1994; Santrock, 2002); status sosial dan tingkat pendidikan (Holahan & Moos, 1987).
Bagi orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus yang dapat menggunakan strategi coping yang baik, maka dapat melakukan penyesuaian sosial dengan baik pula. Reaksi dan pemilihan strategi coping yang dipilih akan berbeda-beda dalam mengatasi masalah yang dihadapi, tergantung pada pengetahuan, pengalaman dan persepsi subjek yang dimiliki.  

Referensi:
Atkinson, P dkk. (2001). Handbook of Ethnography, London : Sage publications
Barnett,D., Clements, M., Kaplan-Estrin, M.,& Fialka, J. (2003). Building New Dreams Supporting Parents’ Adaptation to Their Child With Special Needs. Infants and Young Children. 16( 3): 184–200
Carver, C. S., Scheier, M. F., & Weintraub, J. K. (1989). Assesing Coping Strategies: A Theoretically Based Approach.  Journal of  Personality and Social Psychology, 56 (2), pp. 267-283.
Daniels, K. (1999). Coping and the job demandscontrol-support model: An exploratory study. International Journal of Stress Management, 6,125-144.
Destryarini, M. (2013). Strategi Coping dan Kelelahan Emosional (Emotional Exhaustion) pada Ibu yang Memiliki Anak Berkebutuhan Khusus: Studi Kasus di RSJ Daerah Atma Husada Mahakam, Samarinda Kalimantan Timur. E-Journal Psikologi, 1 (2):123-135
Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa. (2005). Identifikasi Anak Berkebutuhan Khusus Dalam Pendidikan Inklusif. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa,  
Erjona, D. (2013). Parental Stress in Families of Children with Disabilities: A Literature Review. Journal of Educational and Social Research Vol.3 No. 7 hlm. 579-584
Frey, K., Greenberg, M., & Fewell, R. (1989). Stress and Coping among Parents of Handicapped Children. Topics in Early Childhood Special Education, 8, 38-57.
Folkman, S., & Moskowitz, J. T. (2000). Stress, Positive Emotion, and Coping. Current Directions in Psychology Science, 9 (4), pp. 115-118
Folkman, S., Lazarus, R. S., Schetter, C. D., Delongis, A., & Gruen, R. J. (1986). Dynamics of a Stressful Encounter: Cognitive Appraisal, Coping, and Encounter Outcomes. Journal of Personality and Social Psychology , 50 (5), pp. 992-1003.
Gehan, E. N. A. M. (2012). Coping Strategies of Mothers having Children with Special Needs. Journal of Biology, Agriculture and Healthcare. Vol.2 No. 8 hlm. 77-84
Glidden, L. M., Billings, F. J., & Jobe, B. M. (2006). Personality, coping style and well-being of parents rearing children with developmental disabilities. Journal of Intellectual Disability Research, 50,pp. 949–962.
Hadadian, A., & Merbler, J. (1996). Mother's stress: Implications for attachment relationships. Early Child Development and Care, 125, 59-66.
Hallahan, D. P., Kaufmann, J.M., & Pullen, P. C. (2012). Exceptional learners: Introduction to Special Education. Upper Saddle River, NJ: Pearson.
Sabih, F., & Sajid, W. B. (2008). There is Significant Stress among Parents Having Children with Autism. Vol.33 (2) : 214-216.
Sarafino, E. P. (1997). Health Psychology: Biopsychosocial Interactions. USA : The College of New York
Smet, B. (1994). Psikologi Kesehatan. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia.
Twining, P. M., & Nurlela, W. (2015).  Gambaran Strategi Coping pada OrangTua yang Memiliki Anak Berkebutuhan Khusus. (tidak diterbitkan). Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Jember.
Hardjana, A. M. (1994). Stres Tanpa Distres. Yogyakarta: Kanisius.
Nevid, J. S., Rathus, S.A., & Greene, B. (2005). Psikologi Abnormal. Jakarta: Erlangga.
Mak, W. S., & Ho, S. M. (2007). Caregiving perceptions of Chinese mothers of children with intellectual disability in Hong Kong. Journal of Applied Research in Intellectual Disabilities, 20, 145-156.

Pengantar Psikologi Perkembangan Anak

Pengantar Psikologi Perkembangan Anak Zulaeni Esita Dosen Psikologi, Universitas Muhammadiyah Kendari Pendahuluan Psikologi perkembangan ada...